DIARY 12 Etika dan Profesi Keguruan
Melepas, iringi dengan ikhlas
Lepaskan, jika memang tak lagi mampu bertahan
Lepaskan, jika memang tak lagi mampu bertahan
Mungkin ikhlas adalah sesuatu yang mahal harganya. Iya, cukup mahal hingga tak semua orang pun mampu untuk menerapkan dalam kehidupan sehari-harinya.
Terlepas dari cerita pandemi Covid-19 yang kini berada pada titik teratas pembahasan seluruh penjuru dunia beserta dampak-dampaknya, aku belajar sesuatu dibalik hal ini. Bisa dikatakan ini merupakan suatu musibah untuk seluruh umat manusia di dunia, namun selalu ada lawan dari setiap kata yang menunjukkan ada hikmah dibalik musibah. Tidak semua musibah yang didapatkan setiap orang sama. Terkadang yang aku rasa musibah untukku belum tentu orang lain akan menganggap hal yang sama, termasuk apa yang aku alami saat ini. Terkait dengan mata kuliah etika beberapa waktu lalu dengan menemukan sosok guru inspiratif yang selalu menanamkan keikhlasan pada setiap anak didiknya, aku justru mengambil poin penting dari sana. Aku menyadari semua yang diberikan kepadaku hanyalah titipan tuhan untuk dijaga keberadaannya yang salah satunya adalah teman. Teman dekat, mungkin. U know lah. Yaaaa, sempat menjaganya selama beberapa tahun terakhir, sejak aku masuk di SMA. Aku adalah seseorang yang tidak suka bermain dalam menjalin hubungan dengan seseorang karena pada dasarnya aku adalah anak tunggal yang selalu berusaha berkomitmen dengan apapun yang menjadi keputusanku. Aku selalu menguatkan hatiku pada sesuatu untuk tidak aku tinggalkan. Karenanya lah, aku lebih memilih menjadi seseorang yang tidak meninggalkan, yang juga bukan berarti aku selalu dirtinggalkan.
Menurutku dapat dilogika ketika aku memilih untuk tidak meninggalkan dan mencoba iklhas ketika ditinggalkan. Meninggalkan adalah pergi sedangkan ditinggal adalah dengan menetap, lalu menjadi sendiri. Ditinggalkan memang selalu berujung sedih, kalut hingga meratap sendiri. Namun dapat kita lihat, orang yang meninggal tak pernah lagi memiliki kesempatan. Berbeda dengan orang ditinggal yang selalu memiliki secercah harapan untuk kembali meneruskan kehidupan. Paham kan? Hahahaha gak perlu dipikirin sih, ini opiniku aja kok biar bisa ngademin diri sendiri. Percayalah, sesuatu yang diambil kembali oleh Tuhan akan diganti yang lebih baik lagi, dalam waktu cepat ataupun lambat dan yang terpenting adalah percaya. Percaya dengan ikhlas, karena yang didapatkan adalah tuaian dari apa yang kita tanam.
Etika dan Profesi Keguruan
Zakia Listiya Asmarany
18413244018
Komentar
Posting Komentar