Goes To Malang; Tengger, Jodipan, SMA Selamat Pagi Indonesia



Haloooo 2020,

Wellcome and say YES to Malang!!!


Bagaimana tidak? Hehehe, Malang dengan sejuta kenangan dan segudang keunikan selalu saja berhasil membuat kita lupa untuk pulang.

Kota yang dikelilingi gunung-gunung api ini memiliki tanah yang cukup subur sesuai dengan keadaanya, cukup dingin sejuk ditengah perkotaan dan disuguhkan pemandangan pegunungan disekitarnya. Bakso khasnya yang menjadi favorit sampai julukan Kota Apel yang menyuguhkan segarnya buah apel sebagai buah tangan yang dinantikan setiap kali mengunjungi kota ini. Tingginya Gunung Semeru dan indahnya Gunung Bromo menarik perhatian setiap orang dan menjadi sebuah impian untuk bisa mendatanginya. Nah, siapa sangka,keinginanku mengunjungi Malang dapat terlaksana awal tahun ini.

Kuliah Kerja Lapangan(KKL), terdengar tidak asing lagi bagi mahasiswa dimanapun merka berada. Begitu pula denganku yang kebetulan KKL jurusanku dilaksanakan setelah Ujian Akhir Semester 3, tepatnya pada hari Senin sampai Kamis, 13-16 Januari 2020 kemarin. Tujuan KKL kami berada di Malang yang meliputi beberapa destinasi untuk saya observasi. 

Yeay! Malang Im coming!

Senin pagi pukul 04.00 aku terbangun dan segera bergegas untuk shalat dan bersiap sebelum berangkat. Tanpa melewatkan sarapan sekitar pukul 06.30 aku berangkat diantar oleh salah satu temanku menuju rektorat sebagai titik kumpul perjalanan kami kemarin, menggunakan dua buah bis yang berkapasitas 44 orang dalam perjalanan kami. Tujuan pertama perjalananku kali ini adalah di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Jawa Timur yang dikenal sebagai desa adat suku Tengger di wilayah Bromo. Diawali dengan doa bersama, pukul 07.05 perjalananku dimulai. Huh! Tidak sabar rasanya ingin segera sampai, bis melaju dengan kecepatan tinggi dan betapa was-wasnya aku karena aku duduk didepan, bersebelahan dengan supir. Setelah melakukan perjalanan sekitar 6 jam, rombongan kami sampai ke rumah makan Brawijaya untuk istirahat makan siang dan shalat Dzuhur sekaligus transit kendaraan menggunakan shuttle karena jalan meuju Desa Ngadas ini cukup sempit dan berkelok.


Keadaan sebelum berangkat di depan rektorat

Gambar ini diambil sebelum berangkat dan kemudian melakukan pergantian dengan menggunakan 5 buah shuttle untuk melakukan perjalanan sampai ke Desa Ngadas sekitar 3 jam. Sempat terjadi tragedi ledakan pada salah satu shuttle kami yang cukup menjadi suatu kendala dalam perjalanan kami sehingga waktu sampai disana agak mundur. Tragedi ini terjadi karena kelebihan penumpang yang seharusnya 4 orang berada di shuttleku salah masuk ke shuttle yang mesinnya meledak dan sempat terjadi kesedihan ditengah jalan oleh teman-temanku yang bersamaan disana agak susah sinyal sehingga kesulitan untuk menghubungi kami yang sudah sampai. Namu pada akhirnya setelah para supir saling berkoordinasi, satu shuttle menjemput mereka dan kami semua sampai di balai desa Ngadas yang kemudian dibagi kerumah warga.



Gebang menuju Desa Ngadas


Balai Desa Ngadas

Setelah pembagian rumah dilakukan, kami setiap kelompok menuju kerumah warga yang dibagi oleh panitia. Aku dan kelompokku dijadikan satu dengan kelompok lain sehingga dalam satu rumah kami terdiri dari delapan orang yaitu aku, Erni, Alya, Devanti, Reni, Wuri, Rini dan Arien begitu sampai di rumah tempat kami menginap, kami disambut dengan hangat oleh pemilik rumah, ibu Sukarmi. Suhu yang begitu dingin diluar membuat kita semua tidak ada yang berani mandi, bahkan enggan untuk bersenthan dengan air. Untuk menghangatkan tubuh, masyarakat setempat memiliki tradisi unik bernama api-api dengan membuat bara pada arang kemudian kami berkumpul mengeliinginya.



 Api-api, untuk menghangatkan badan

Setelah merasa cukup hangat kami disuguhkan the panas dan makan malam. Menu makan malam rumah kami cukup mengagetkan bagi kami yang muslim, karena kami disajikan darah sapi yang dibekukan kemudian dimasak pedas. Ada beberapa dari kami yang sudah memakannya, namun ketika diberi tau itu adalah darah yang dikaramkan bagi kami yang muslim, meninggalkannya dipiring. Suasana canda terjadi ketika meraka yang terlambat menyadari apa yang mereka makan pun tercipta. Saling bercengkrama dengan pemilik rumah mengalir hangat begitu saja, namun waktu menunjukkan kami sudah harus segera bersiap-siap untuk menuju balai desa untuk melakukan Forum Group Discussion dengan kepala desa dan pak dukun disana. Namun sebelum keluar rumah, ibu kami memberikan kaweng pada kami berupa selemdang yang diikatkan pada tubuh yang merupakan ciri khas adat mereka ketika berada diluar rumah. 



Pemakaian kaweng bagi orang yang belum menikah

Penggunaan kaweng ini dilakukan oleh perempuan yang ikatnya merupakan lambang status dari perempuan tersebut. Tanpa memandang waktu pagi siang sore mmalam masyarakat disana biasa menggunakan kaweng  ini  sebagai pakaian unuk menghangatkan tubuh mereka. Masyarakat disana menggunakan kaweng ini didalam dan diluar rumah dengan segala keadaan dan pekerjaan mereka. Kemudian kami melakukan perjalanan menuju balai desa yang ketika kami masuk mendapatkan tawaan dari teman-teman yang lain. Namun setelah bapak kepala desa menjelaskan itu merupakan kebudayaan mereka yang dipakai oleh perempuan dan laki-laki memakai sarung, kelompok kami diberi apresiasi karena sudah berinteraksi lebih dekat dengan masyarakat disana. Forum Group Discussion berjalan dengan lancar dan cukup banyak pertanyaan yang diajukan sehingga selesai pukul 22.00. Peraturan yang mengatur perempuan tidak boleh pulang terlalu malam membuat kami langsung pulang kerumah. Beberapa dari kami ada yang langsung tidru dan ada yang masih berapi-api. 



Pasar di Desa Ngadas

Pagi harinya kami bangun lebih pagi untuk berbelanja di pasar karena pukul 09.00 hari itu ada upacara Galungan dan Barikan. Tidak seperti pasar biasanya, pasar yang ada di desa ini berupa mobil pick up dengan belanjaan yang hanya ada pada pukul 05.30 sampai 06.30. Setelah berbelanja kami membantu ibu memasak dan menyiapkan bahan-bahan untuk upacara. Namun saat itu aku mwngunjungi salah satu rumah warga yang memiliki pawon yang disana pawon ini merupakan tempat yang sakral karena dianggap memiliki penunggu sehingga tidak boleh melewati depannya.



Pawon 


Upacara Galungan dan Barikan

Setelah persiapan upacara selesai kami menuju depan rumah bapak kepala desa untuk melakukan upacara tersebut. Upacara ini berlangsung kurang lebih hanya selama satu jam dan setelahnya kami mendapatkan free time yang aku gunakan untuk melihat lihat pemandangan disekitar berupa gunung dan jurang sampai siang hari.


Pemandangan di Desa Ngadas

Sampai dirumah aku beristirahat sebentar kemudian mandi dan bersiap untuk melakukan perjalanan selanjutnya. Kami membereskan bersama tempat kami menginap kemudian makan siang yang diakhiri dengan berpamitan serta ucapan terima kasih dan maaf.

Rombongan kami sudah ditunggu oleh shuttle yang mengantar kami untuk menuju ke tujuan yang kedua, yaitu Kampung Warna-Warni Jodipan dan Kampung Tridi yang berada di Kota Malang. Kurnang lebih 2 jam perjalanan kami pun sampai disana untuk melaksanakan tugas membuat video, yang juga mengikuti Forum Group Discussion dahulu sebelumya. Di kampung warna-warni ini kami hanya melakukan perjalanan dan cukup fokus pada tugas membuat video sehingga menjadikan waktu terasa berjalan dengan sangat cepat. Dengan melewati jembatan kaca yang menghubungkan wisata kampung warna-warni Jodipan dengan kampung Tridi membuat arah rombongan kami kembali ke parkiran shuttle berada.


Jembatan Kampung Warna-Warni Jodipan dam Kampung Tridi


Kurang lebih sekitar dua jam disana, kami melanjutkan perjalanan dengan makan malam dan menuju Hotel Transformer di Sekolah Selamat Pagi Indonesia. Sampai di hotel kami disambut oleh penampilan para siswa disana yang kemudian diberikan free time  yang aku gunakan untuk berjalan-jalan di Kota Batu dengan kelima temanku untuk berwisata kuliner khas Malang, yaitu bakso dan ketan legenda. Kira-kira sampai pukul 01.00 kami sudah kembali lagi ke hotel.



Sambutan siswa-siswi Sekolah Selamat Pagi Indonesia


Ketan Legenda


Bakso Malang

Pagi hari kami sudah harus check out dari hotel dan melakukan sarapan. Setelah sarapan kami diarahkan menuju tempat pertunjukan seperti semlam untuk menonton karya anak Sekolah Selamat Pagi Indonesia.



Perunjukan siswa-siswi Sekolah Selamat Pagi Indonesia

Setelah kurang lebih satu jam menonton pertunjukan rombongan kami dibawa menuju aula untuk menghadiri seminar dan berkeliling Sekolah Selamat Pagi Indonesia mulai dari ruang kelas, ruang kerja dan lingkungan disana yang dilanjutkan dengan makan siang kemudian outbond. Outbond yang diberikan cukup menantang dan banyak berkeaan dengan air. Tidak ketinggalan, bapak dan ibu dosen kami juga turut serta mengikuti outbond ini. di akhir kegiatan kami dikumpulkan di tengah lapangan kemudian disiram dengan air sembari kami menari bersama dibawahnya. Hal ini menjadi penutup yang sangat indah karena menjadi suatu hal yang sayang untuk dilupakan. 


Outbond 


Berkeliling Sekolah Selamat Pagi Indonesia


Penutupan Outbond

Berakhirnya outbond ini juga berarti waktu kami di Sekolah Selamat Pagi Indonesia ini sudah habis. Setelah itu kami menuju tujuan terakhir sebagai bonus dari kepenatan kami dalam mengerjakan tugas dengan mendatangi Jawa Timur Park 3. Sekitar dua jam disana kami melakukan perjalanan pulang yang tidak lupa sebelumnya membeli oleh-oleh disalah satu pusat oleh-oleh khas Malang disana.


Jawa Timur Park 3
Selesai berbelanja rombongan kami bergegas untuk segera pulang. Sampai di Yogyakarta pada pukul 02.30 dan kami dipersilahkan kembali kerumah masing-masing.

Cukup mengesankan, penuh kenangan dan yah, kejadian seperti ini hanya berjalan sebentar. Tapi tak masalah ketika aku mendapatkan pengalaman yang istimewa seperti ini dengan teman-temanku, dan aku enjoy ketika menjalankannya. Untuk mendapatkan seperti apa pengalaman hidup di udara dingin boleh sekali mencoba ke destinasi yang aku datengin kali ini.

Jadi, bagaimana, kapan kalian mengagendakan untuk menyusul ke Malang?
Atau, akan kemana kita setelah ini?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Resensi Buku 'BUDAYA dan MASYARAKAT' KUNTOWIJOYO

Kontrbusi Lingkungan Dalam Perilaku Kejahatan

DIARY 7 Etika dan Profesi Keguruan